Sudah Telat Beberapa Puluh Hari

Ketika kedua jarum jam bertumpuk di angka 12 dan penunjuk tanggal di telepon pintar berganti menjadi 15 April, tidak ada yang berubah, tidak ada yang terjadi. Tidak ada letupan kembang api di luar rumah kos untuk merayakan dua puluh satu tahun eksistensi di dunia. Bahwa kalau di Amerika sudah bisa membeli dan menenggak alkohol dengan tetap bertanggung jawab.

Tidak ada ibu peri dan para kurcaci dengan riang membawakan gaun indah dan menjadikanku putri di negeri dongeng barang satu hari saja. Tidak ada perubahan dengan fisikku. Warna kulitku masih saja sawo matang, rambutku masih panjang dan berwarna hitam, kedua pipiku belum juga tirus, dan hidungku tidak mancung juga.

Tapi, salah jika ada yang bilang aku adalah orang yang sama pada dua atau tiga bulan yang lalu. Atau tiga hari yang lalu.

Aku menjalani hidup dua puluh satu tahun di dunia. Pertemuan pertamaku dengan manusia mungkin adalah dengan dokter penolong kelahiranku. Terima kasih, dok. Terima kasih telah menjadi yang pertama kali memegang tubuh kecilku yang berlumuran cairan itu. Meski kemudian tak kuingat lagi kapan aku bertemu denganmu, aku berterima kasih atas pertemuan kita itu.

Untuk teman pertamaku di masa-masa sekolah, terima kasih telah mengajari banyak hal. Terima kasih telah membagi kudapan makan siangmu denganku. Terima kasih telah mengajariku bagaimana berani bertanya kepada Ibu guru. Terima kasih telah mau menjadi teman sebangku. Terima kasih telah meminjamiku pekerjaan rumahmu. Terima kasih untuk masih mengingatku dan sebagian dari apa yang pernah kita lakukan dulu bersama-sama.

Untuk Ibu perpustakaan yang baik hati dan membuatku menjadi semangat membaca buku. Yang memperbolehkan aku menjadi petugas perpustakaan meski saat itu masih anak SD dan banyak omong serta merepotkan.

Untuk Bapak becak yang mengantarku berangkat sekolah dan menjemputku pulang. Terima kasih telah sabar menungguiku ketika aku telat bangun. Terima kasih mau berpayah-payah mengangkut delapan orang anak SD setiap pagi dan siang hari.

Untuk Ibu kantin SMA yang selalu sabar melayani remaja-remaja tanggung yang kelaparan saat siang. Yang memaafkan, jika aku lupa membayar makananku hari itu. Yang hanya berkata, iya tidak apa-apa, yang penting kan sekarang sudah dibayar. Terima kasih.

Untuk para sopir bus yang mengantarkanku ke kota-kota tetangga. Yang terkadang ngebut ke kanan dan ke kiri. Atau jalan pelan-pelan yang penting selamat sampai tujuan. Terima kasih.

Untuk kakak kelas yang dulu kuidolai, terima kasih sudah pernah membuatku belajar bahwa perasaan sakit hati itu nyata dan sangat tidak menyenangkan. Terima kasih sudah terlahir dari rahim ibumu sebagai orang yang baik dan rupawan.

Untuk Bapak Grabbike yang membuatku menunggu di pinggir jalan selama tujuh menit. Dan yang mau menungguku lari-lari menukar uang ke toko kelontong untuk membayar. Terima kasih, sudah mengajariku bersabar dan terima kasih sudah sabar. Bintang lima, pak.

Lelaki kurang ajar yang melakukan verbal sexual harassment kepadaku. Ah. Aku mungkin susah berterima kasih padamu. Tetapi, mungkin kau membuatku sadar betapa penting berani berbicara untuk hal yang tak kita sukai itu. Terima kasih?

Untuk orang-orang yang sesekali mampir dalam hidupku. Terima kasih. Meski kalian tak singgah dalam waktu yang cukup panjang. Ya, semua membawa sesuatu yang berbeda padaku. Kalian datang sebagai ujianku dan mungkin aku adalah ujian bagi kalian atau orang yang lain.

Terima kasih bagi mereka yang ikut ambil bagian dalam dua puluh satu tahun hidupku, yang hanya mampir dan tak pernah singgah. Dua puluh satu tahun juga akhirnya.

Ya begitulah. Telat beberapa puluh hari tetapi tak apa lah. Terima kasih bagi yang terkadang mampir membaca, meski tak lama. Selamat malam.

 

Advertisements

A Letter to You

I’m not the best best friend you’ve ever had. But, you’re surely one of the best best friend I’ve ever had.

It’s super late. I know. I’m awful person and such a bad friend. You can curse me out all you want, but I really am so sorry. I was kept up with so many things lately that I forgot your birthday. I didn’t really forget. I know it’s June 8. But, as you know, I’m awful when it comes to date. At 1:20 am of June 9, I realized the day before was June 8, which meant your special day.

I really feel bad right now. Really. The fact that I couldn’t give you anything while just a few months ago you came all the way from your dorm to mine and got me a cake only to get dissed because I was lot busy with group assignments.

Just, what a friend I am compared to you?

Thank you so much for what you’d done to me. I couldn’t text you a birthday message or call you whatsoever because of some traditional reason you already know. I couldn’t get a hold of my phone because my charger sucks ball at the moment so hope you read this post and yeah.

I know, it should’ve been a birthday post for you but it ended up being my apologize post.

Happy Birthday! Happy Birthday! Happy Birthday! Happy Birthday!

Happy birthday to you, Runz!

I hope all your hard work gets paid off this year. I hope all your wishes come true. I hope you’ll always be you who we always know. I hope any project that you’re working on right goes well. I hope you have the best year of your life. I hope you’ll come closer to your soulmate. I hope your study is going awesomely well. I hope what you say on your prayers everyday are heard by Allah Swt. I hope you’re always with His mercies and blessings.

I’m finishing this post with a famous quote from anonymous.

“Best friends are like stars. You don’t always see them but they are there”

Have a good Saturday everyone!

Lalu, Usiamu pun Berkurang Juga

If you think you are beaten, you are. 
If you think you dare not, you don’t. 
If you like to win but think you can’t, it’s almost a cinch you won’t. 
If you think you’ll lose, you’re lost. 
For out in the world we find success begins with your will.
It’s all in the state of mind.
If you think you are out classed, you are.
You’ve got to think high to rise.
You’ve got to be sure of yourself before you can ever win the prize.
Life’s battles don’t always go to the faster woman or man.
But sooner or later, the ones who win are the ones who thinks they can.
I know you can. 
Happy birthday!

x

Wow. It’s been so long since last time I met them. However, I hope they still remember me.
Happy birthday to my dearest friends! You’re the best and always will!

Selamat Ulang Tahun, Dili & Sarong!

Selamat Ulang Tahun, Dili & Sarong!

 

Sarong, Runz atau apapunlah kalian ingin memanggilnya…

It’s so weird to say that I’ve been friends with her for like 6-7 years but it feels like forever. Runz was always there when I needed something :’) (It makes me teary). She helped me with everything back there in middle school. We were so inseparable because many people say we were alike. Back in middle school, I always came home late because we were the after-school gang along with Abid and Aan! Lol

Happy birthday girlllllllllllllllll
You should come here to my dorm house and treat me something expensive! Tehe.

and to the girl in the Apple City…

Dili, or you just can call her Dili, is a great friend I found on high school.

Dili nggak pernah marah, dia selalu tersenyum, heboh, ketawa sini ketawa sana, rusuh di sini rusuh di sana. Tapi, sekalinya marah beeeeeh rusuh deh rusuh beneran! Yang aku tahu Dili adalah orang sangat baik, penolong, penyayang, suka membantu, suka berbagi rezeki, suka usil, suka makan (ehhhhhhhhhh)

Dili is a friend you need when you don’t feel like talking because she makes you talk anyway. She is the definition of true friend for anyone that knows her. Her bubbly and carefree personality enlightens her surroundings.

Ah, it’s getting emotional.

Joyeux Anniversaire, Dili!
You should come here and bring me a lot of food because I’m super hungry while writing this 😦

 

Serius deh, yang ini serius.
Semoga di usia yang baru, kalian berubah menjadi pribadi yang lebih baik, semoga mimpi-mimpi dan harapan kalian selama ini tidak hanya menjadi mimpi tapi berubah jadi nyata, semoga semua pengorbanan dan usaha yang kalian lakukan mendapat balasan yang setimpal dari Allah Swt., semoga kalian berdua selalu dalam lindungan-Nya.

Meski nggak jelas, semoga kalian menerima tulisan ini.

See you very soon, gurls! 😀

 

Salam hangat (karena lagi panas-panasnya) dari pinggiran ibukota.

Sembilan Belas Tahun

00.18

Ini sudah pagi atau mungkin masih tengah malam. Entahlah, tergantung bagaimana orang melihatnya.

Ia terpekur di depan laptop. Menatap halaman salah satu jejaring sosial. Itu dia! 

Telah 19 tahun kau meniti jalan panjang kehidupan. Sembilan belas tahun kau merasakan segarnya udara ciptaan Tuhan. Sudah Sembilan belas tahun.

Telah 19 tahun kau belajar. Belajar apapun. Mulai dari hal kecil hingga obsesimu barumu menjadi auditor. Munlai belajar memasak sampai menyelesaikan laporan keuangan. Sudah Sembilan belas tahun.

Telah 19 tahun kau hidup di tengah-tengah orang-orang hebat. Sesungguhnya mereka adalah pemacumu. Penggerak pompa semangatmu. Pemantik nyala api tak kenal lelahmu. Sudah Sembilan belas tahun.

Kau yang memandangi layar laptopmu. Ya, yang mengetik tulisan ini pula. Selamat bertambah usia! Semoga dengan bertambahnya usiamu kau makin dewasa,makin cantik, makin membanggakan orang tua. Jangan lupakan apa yang mereka selalu pesankan kepadamu. Tetaplah menjadi siapa dirimu, dimanapun. Jaga nama baikmu dan keluargamu.

Belajarlah. Karena dengan itu akan naik derajatmu. Karena dengan itu akan bertambah pengalamanmu. Mencobalah. Coba lepasan keragu-raguan yang sering datang menyelimuti pikiranmu. Bebaskan dirimu dari rasa tak mampu. Kau sendiri pernah berkata, “You are what you’re thinking.”

Berpikir positiflah. Karena seperti yang kau tahu, betapa besar kekuatan pikiranmu itu. Jangan pernah berpikir kau tak mampu. Kau hanya belum berhasil.

Bersihkan hatimu. Jangan pernah kau lupkan lagi laporan lima waktumu. Dia yang memberimu segalanya. Ibadah, hidup, dan matimu. Sering-seringlah meminta kepada-Nya, memohon cinta dan kasihnya. Kenakan baju panjangmu, meski belum mampu kau dan kerudungmu.

Ini sudah tahun ke Sembilan belas.
Babak baru lakon ‘Hidup’ milikmu.
Bermainlah dengan baik, wahai  saudariku.