Journal(is)me?

Ketika telah memutuskan untuk terjun di dunia jurnalisme, engkau harus keluar dari lingkaran peristiwa untuk melihat peristiwa tersebut secara utuh dan luas dari sudut pandang yang berbeda.

Saya pernah mendengar seseorang, salah seorang senior seingat saya, mengatakan hal itu. Mungkin memang tidak sama persis kata per kata, tetapi intinya sama. Kau harus ‘menyisihkan’ dirimu dari lingkaran peristiwa dan mengamatinya sebagai seseorang yang lain, seseorang yang bukan para pelaku di lingkaran tersebut.

Benar. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana kita ikut ambil bagian peristiwa tersebut dalam porsi yang lain. Tidak mungkin kan kita memberitakan tentang unjuk rasa dengan objektif jika kita ikut ambil bagian dari unjuk rasa tersebut? Meskipun kita mencoba se-objektif mungkin, tetap saja sulit untuk sebuah individu yang ikut berpartisipasi dalam suatu acara untuk berkata hal-hal buruk tentang acara itu, kalau saja memang ada hal buruk yang terjadi.

Intinya, kita akan menjadi seolah-olah invisible, tak tampak.

Kemudian, seorang senior yang lain pernah mempertanyakan masalah ‘invisible’ itu.

“Sebagian dari teman-teman kalian yang pernah bergabung bersama kalian dahulu, ketika masa magang, kini menjadi orang-orang yang vokal di kampus kita. Mereka menjadi salah satu sosok penting di organisasi-organisasi kampus. Mereka eksis, dikenal publik. Lalu kalian? Kalian hanya wartawan kampus. Yakinkah kalian?”

Jika tujuan utama saya menjadi populer, tidak akan saya memilih ‘jalan’ ini. Mimpi untuk mengubah dunia yang membawa saya ke sini, terseok-seok berjalan menggenggam khayalan masa kecil.

Biarkan saya dan teman-teman, kami, mengubah apa yang terlihat di depan mata kami. Untuk urusan yang lebih besar, ada waktu yang menunggu.

I still believe that if your aim is to change the world, journalism is a more immediate short-term weapon.
– Tom Stoppard

Memang terlalu dini bagi saya untuk berbicara masalah jurnalisme atau cara mengubah dunia dengan terjun di dalamnya, mengingat, siapa saya? Hanya seorang mahasiswa diploma tiga keuangan. Belajar keuangan, bukan jurnalisme. Belajar jurnalisme? Baru juga beberapa bulan. Saya memang tidak akan berkoar-koar tentang hak untuk menyatakan pendapat, netralitas dan independensi media, dan sebagainya karena saya memang hanya seorang pemula, pemimpi yang menjejakkan kaki di tanah impiannya dengan keragu-raguan.

Ah, sudahlah.

Jika kau memang telah memilih, ambil resiko dan teruslah berjalan.

Ya, benar, inti tulisan ini adalah kalimat kedua terakhir.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s