Blu: Rasa Puas

We can make our own limit.

23:42

Huruf demi huruf mulai tampak di layar sebuah laptop biru yang usang. Laptop ini menemaninya setiap hari di kala ia sibuk dengan tugas atau bosan dengannya. Laptop ini pernah mengantarkannya pada gerbang kepiluan saat ia harus menerima kenyataan bahwa sebuah universitas negeri menolaknya. Laptop ini juga bersamanya ketika ia akhirnya tersenyum bahagia mendapati namanya tercantum di salah satu laman sekolah tinggi impiannya.

Kini laptop itu duduk di pangkuannya dengan manis. Ia kemudian bertanya pada laptop biru itu.

“Mengapa kita selalu merasa tak puas akan diri sendiri? Ataukah itu hanya sebuah nukilan dari sisi perfeksionis kita?”

Sejenak, laptop biru yang ia namakan Blu itu terdiam, tak ada huruf-huruf yang muncul sesaat setelah pertanyaan itu dilontarkan. Kemudian Blu segera membawanya ke sebuah tempat di mana ia bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan konyolnya itu.

Tempat ini terlihat sepi. Namun, sebenarnya tempat ini begitu ramai. Berbagai individu dari belahan dunia yang berbeda saling bertukar pendapat. Bahkan, di tempat ini pula seseorang mendapatkan belahan jiwanya. Mereka bilang, tempat ini penuh dengan kekuatan. Seorang bocah berusia 15 tahun menjadi seorang milyuner gara-gara ia sering bermain ke salah satu blok di tempat ini.

Ia mencari ke sudut-sudut tapi belum menemukan juga apa jawaban dari pertanyaan itu. Ia mendengar beberapa orang berbicara tentang rasa puas dan sifat pelupa manusia untuk bersyukur. Ia terdiam sebentar, berpikir.

Blu kemudian menyeretnya kembali ke sebuah halaman yang tadi mereka tempati untuk berdiskusi. Laptop biru itu kemudian kembali memunculkan kata-kata yang diharapkannya mampu menjawab pertanyaan pemiliknya.

Kita tak puas akan diri sendiri karena kita selalu memandang ke atas. Kita melihat sesuatu yang glamor, mewah, superior, dan sebagainya. Kemudian kita merasa bahwa apa yang bisa lakukan hanyalah sedikit dari apa yang mereka, penghuni strata tinggi kehidupan, bisa lakukan. Kita merasa apa yang mereka punya berlipat-lipat jumlahnya dari apa yang kita miliki.

Jika kita tak memiliki keyakinan yang kuat, kita akan jatuh. Jatuh kemana? Ke sungai yang berarus deras. Arus itu yang menyeret kita menuju jurang paling dalam yang biasa disebut rasa iri. Seperti yang diketahui rasa iri adalah sifat buruk pertama manusia di muka bumi ini. Pembunuhan Habil oleh Qabil didasari rasa iri karena Habil dinikahkan oleh Nabi Adam As. dengan Iqlima yang lebih cantik daripada Labuda.

Mungkin rasa iri itu yang menyebabkan kita merasa tak puas. Rasa iri yang berlebihan menyebabkan rasa benci. Kebencian akan menyeret kita pada hal-hal buruk lainnya.

Ia menghela nafas. Cukup puas dengan rentetan kata-kata yang tertulis di layar laptopnya.

“Lalu bagaimana dengan ungkapan-ungkapan yang menyatakan kita tak boleh merasa puas?”

Sekali lagi Blu berhenti memunculkan kata-kata. Kursornya bekedip-kedip seakan ikut berpikir bagaimana cara menjawab pertanyaan pemilik laptop biru itu.

Ini beda lagi. Beberapa menit kemudian kata demi kata muncul satu demi satu di layar laptop biru itu.

Mengapa kita tidak boleh merasa puas? Karena di sisi lain rasa puas membuat kita berhenti untuk berusaha. Rasa puas membuat kita berhenti mencapai sesuatu yang lebih dari apa yang kita dapatkan. Jika kita merasa puas dengan diri sendiri misalnya, kita tidak akan berkembang. Kita akan berhenti di titik itu saja karena kita merasa inilah yang maksimal yang kita bisa.

Ingat, di atas langit masih ada langit. Jangan pernah merasa puas akan apa yang kita raih, karena sesungguhnya masih banyak di atas sana yang lebih hebat dari kita. Perasaan yang demikian itulah, tidak puas, yang menarik kita kembali ke muka bumi, sadar diri.

“Lalu untuk sisi perfeksionis?”

Memang benar. Perfeksionisme memerlukan rasa tidak puas yang tak terbatas. Mungkin terbatas memang. Namun, itu terjadi jika seseorang telah menganggap apa yang ia kerjakan telah mencapai level kesempurnaan miliknya.

Lalu pada akhirnya, semua akan kembali ke diri individu-individu yang memikirkannya. Rasa puas yang berlebihan membuat kita lupa segalanya, lupa bahwa sebenarnya masih ada mereka yang punya lebih dari apa yang kita punya. Lupa membawa bencana. Ketika rasa iri sedikit demi sedikit menggumpal menjadi kebencian, kita telah terseret ke jurang kehancuran.

Ketika kita tidak pernah merasa puas akan apa yang kita dapatkan, mengeluh, dan mengeluh, itu berarti kita tidak cukup bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Rasa tidak puas yang berlebihan akan menyeret kita kearah sifat rakus. Dan tidak ada yang mengatakan rakus adalah hal baik untuk manusia.

“Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik,” gumam sang gadis. Jemarinya masih berdansa di atas keyboard.

Sesaat kemudian jemarinya berhenti mengetik. Ia menatap layar laptop yang kini tak lagi putih kosong. Blu telah membantunya mengisi beberapa lembar.

Kemudian ia teringat akan sebuah kata-kata bijak, ia tersenyum dan jemarinya kembali bertemu dengan keyboard.

“You have to fight for your dream, but you also have to feel fortunate for what you have.”

Ah, ini dia.

Ia melirik penujuk waktu di layar laptopnya, 01.21.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s