Journal(is)me?

Ketika telah memutuskan untuk terjun di dunia jurnalisme, engkau harus keluar dari lingkaran peristiwa untuk melihat peristiwa tersebut secara utuh dan luas dari sudut pandang yang berbeda.

Continue reading

Advertisements

Lalu, Usiamu pun Berkurang Juga

If you think you are beaten, you are. 
If you think you dare not, you don’t. 
If you like to win but think you can’t, it’s almost a cinch you won’t. 
If you think you’ll lose, you’re lost. 
For out in the world we find success begins with your will.
It’s all in the state of mind.
If you think you are out classed, you are.
You’ve got to think high to rise.
You’ve got to be sure of yourself before you can ever win the prize.
Life’s battles don’t always go to the faster woman or man.
But sooner or later, the ones who win are the ones who thinks they can.
I know you can. 
Happy birthday!

x

Wow. It’s been so long since last time I met them. However, I hope they still remember me.
Happy birthday to my dearest friends! You’re the best and always will!

Selamat Ulang Tahun, Dili & Sarong!

Selamat Ulang Tahun, Dili & Sarong!

 

Sarong, Runz atau apapunlah kalian ingin memanggilnya…

It’s so weird to say that I’ve been friends with her for like 6-7 years but it feels like forever. Runz was always there when I needed something :’) (It makes me teary). She helped me with everything back there in middle school. We were so inseparable because many people say we were alike. Back in middle school, I always came home late because we were the after-school gang along with Abid and Aan! Lol

Happy birthday girlllllllllllllllll
You should come here to my dorm house and treat me something expensive! Tehe.

and to the girl in the Apple City…

Dili, or you just can call her Dili, is a great friend I found on high school.

Dili nggak pernah marah, dia selalu tersenyum, heboh, ketawa sini ketawa sana, rusuh di sini rusuh di sana. Tapi, sekalinya marah beeeeeh rusuh deh rusuh beneran! Yang aku tahu Dili adalah orang sangat baik, penolong, penyayang, suka membantu, suka berbagi rezeki, suka usil, suka makan (ehhhhhhhhhh)

Dili is a friend you need when you don’t feel like talking because she makes you talk anyway. She is the definition of true friend for anyone that knows her. Her bubbly and carefree personality enlightens her surroundings.

Ah, it’s getting emotional.

Joyeux Anniversaire, Dili!
You should come here and bring me a lot of food because I’m super hungry while writing this 😦

 

Serius deh, yang ini serius.
Semoga di usia yang baru, kalian berubah menjadi pribadi yang lebih baik, semoga mimpi-mimpi dan harapan kalian selama ini tidak hanya menjadi mimpi tapi berubah jadi nyata, semoga semua pengorbanan dan usaha yang kalian lakukan mendapat balasan yang setimpal dari Allah Swt., semoga kalian berdua selalu dalam lindungan-Nya.

Meski nggak jelas, semoga kalian menerima tulisan ini.

See you very soon, gurls! 😀

 

Salam hangat (karena lagi panas-panasnya) dari pinggiran ibukota.

Blu: Rasa Puas

We can make our own limit.

23:42

Huruf demi huruf mulai tampak di layar sebuah laptop biru yang usang. Laptop ini menemaninya setiap hari di kala ia sibuk dengan tugas atau bosan dengannya. Laptop ini pernah mengantarkannya pada gerbang kepiluan saat ia harus menerima kenyataan bahwa sebuah universitas negeri menolaknya. Laptop ini juga bersamanya ketika ia akhirnya tersenyum bahagia mendapati namanya tercantum di salah satu laman sekolah tinggi impiannya.

Kini laptop itu duduk di pangkuannya dengan manis. Ia kemudian bertanya pada laptop biru itu.

“Mengapa kita selalu merasa tak puas akan diri sendiri? Ataukah itu hanya sebuah nukilan dari sisi perfeksionis kita?”

Sejenak, laptop biru yang ia namakan Blu itu terdiam, tak ada huruf-huruf yang muncul sesaat setelah pertanyaan itu dilontarkan. Kemudian Blu segera membawanya ke sebuah tempat di mana ia bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan konyolnya itu.

Tempat ini terlihat sepi. Namun, sebenarnya tempat ini begitu ramai. Berbagai individu dari belahan dunia yang berbeda saling bertukar pendapat. Bahkan, di tempat ini pula seseorang mendapatkan belahan jiwanya. Mereka bilang, tempat ini penuh dengan kekuatan. Seorang bocah berusia 15 tahun menjadi seorang milyuner gara-gara ia sering bermain ke salah satu blok di tempat ini.

Ia mencari ke sudut-sudut tapi belum menemukan juga apa jawaban dari pertanyaan itu. Ia mendengar beberapa orang berbicara tentang rasa puas dan sifat pelupa manusia untuk bersyukur. Ia terdiam sebentar, berpikir.

Blu kemudian menyeretnya kembali ke sebuah halaman yang tadi mereka tempati untuk berdiskusi. Laptop biru itu kemudian kembali memunculkan kata-kata yang diharapkannya mampu menjawab pertanyaan pemiliknya.

Kita tak puas akan diri sendiri karena kita selalu memandang ke atas. Kita melihat sesuatu yang glamor, mewah, superior, dan sebagainya. Kemudian kita merasa bahwa apa yang bisa lakukan hanyalah sedikit dari apa yang mereka, penghuni strata tinggi kehidupan, bisa lakukan. Kita merasa apa yang mereka punya berlipat-lipat jumlahnya dari apa yang kita miliki.

Jika kita tak memiliki keyakinan yang kuat, kita akan jatuh. Jatuh kemana? Ke sungai yang berarus deras. Arus itu yang menyeret kita menuju jurang paling dalam yang biasa disebut rasa iri. Seperti yang diketahui rasa iri adalah sifat buruk pertama manusia di muka bumi ini. Pembunuhan Habil oleh Qabil didasari rasa iri karena Habil dinikahkan oleh Nabi Adam As. dengan Iqlima yang lebih cantik daripada Labuda.

Mungkin rasa iri itu yang menyebabkan kita merasa tak puas. Rasa iri yang berlebihan menyebabkan rasa benci. Kebencian akan menyeret kita pada hal-hal buruk lainnya.

Ia menghela nafas. Cukup puas dengan rentetan kata-kata yang tertulis di layar laptopnya.

“Lalu bagaimana dengan ungkapan-ungkapan yang menyatakan kita tak boleh merasa puas?”

Sekali lagi Blu berhenti memunculkan kata-kata. Kursornya bekedip-kedip seakan ikut berpikir bagaimana cara menjawab pertanyaan pemilik laptop biru itu.

Ini beda lagi. Beberapa menit kemudian kata demi kata muncul satu demi satu di layar laptop biru itu.

Mengapa kita tidak boleh merasa puas? Karena di sisi lain rasa puas membuat kita berhenti untuk berusaha. Rasa puas membuat kita berhenti mencapai sesuatu yang lebih dari apa yang kita dapatkan. Jika kita merasa puas dengan diri sendiri misalnya, kita tidak akan berkembang. Kita akan berhenti di titik itu saja karena kita merasa inilah yang maksimal yang kita bisa.

Ingat, di atas langit masih ada langit. Jangan pernah merasa puas akan apa yang kita raih, karena sesungguhnya masih banyak di atas sana yang lebih hebat dari kita. Perasaan yang demikian itulah, tidak puas, yang menarik kita kembali ke muka bumi, sadar diri.

“Lalu untuk sisi perfeksionis?”

Memang benar. Perfeksionisme memerlukan rasa tidak puas yang tak terbatas. Mungkin terbatas memang. Namun, itu terjadi jika seseorang telah menganggap apa yang ia kerjakan telah mencapai level kesempurnaan miliknya.

Lalu pada akhirnya, semua akan kembali ke diri individu-individu yang memikirkannya. Rasa puas yang berlebihan membuat kita lupa segalanya, lupa bahwa sebenarnya masih ada mereka yang punya lebih dari apa yang kita punya. Lupa membawa bencana. Ketika rasa iri sedikit demi sedikit menggumpal menjadi kebencian, kita telah terseret ke jurang kehancuran.

Ketika kita tidak pernah merasa puas akan apa yang kita dapatkan, mengeluh, dan mengeluh, itu berarti kita tidak cukup bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Rasa tidak puas yang berlebihan akan menyeret kita kearah sifat rakus. Dan tidak ada yang mengatakan rakus adalah hal baik untuk manusia.

“Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik,” gumam sang gadis. Jemarinya masih berdansa di atas keyboard.

Sesaat kemudian jemarinya berhenti mengetik. Ia menatap layar laptop yang kini tak lagi putih kosong. Blu telah membantunya mengisi beberapa lembar.

Kemudian ia teringat akan sebuah kata-kata bijak, ia tersenyum dan jemarinya kembali bertemu dengan keyboard.

“You have to fight for your dream, but you also have to feel fortunate for what you have.”

Ah, ini dia.

Ia melirik penujuk waktu di layar laptopnya, 01.21.

Untuk Kamu

 

Reach me.

 

Banyak sekali yang ingin aku tuangkan dalam pena maya. Namun, ternyata kemampuanku memang belum rata-rata. Kantuk menyerang sembari menatap layar kosong. Masih dua baris.

Lalu ada sedikit ide yang menyembul, hanya sedikit. Kadang ia melintas dan hanya melintas. Tak tertangkap ujung-ujung syaraf. Ia berlalu kemudian entah kemana.

“Jangan kata ingin membawa perubahan jika sendirinya belum berubah.”

Betapa ingin aku teriak ke muka orang yang mengatakan hal itu.

“KAU BENAR! DAN KINI TOLONGLAH AKU! AKU INGIN BERUBAH TAPI TAK MAMPU BERUBAH!”

Dan ia berlalu.

Tak usah mencoba mengubah massa jika belum saatnya. Kadang, ada pula kesempatan untuk kita mengubah satu demi satu orang-orang di sekitar kita. Mendekatinya.

Nah, kini kamu tahu apa maksudku.

Dekati, ajak aku untuk berubah.

Ha. Betapa malang nasibku. Merubah diri sendiri tak bisa, kini mengais perhatian, bantuan.

Ya, bantuan. Untuk menemukan semangat juang yang dulu pernah ada, yang berakar kuat di rongga jiwa. Untuk mengasah ujung pensil perubahan yang membawa dinamika kehidupan. Menggerakkan arit dan pacul, bekerja keras. Ah, kamu.

Kamu memang terlalu hebat di mataku. Apapun. Sepertinya kepalamu itu seimbang. Tak melulu hitung dan hapal. Nada dan irama pun kamu bisa. Ah, iri aku.

Bantulah satu jika kau bisa, ya kamu.

Satu ya aku.