Kesabaran Awal dari Kesetiaan?

 

Entahlah, pertanyaan itu tiba-tiba muncul beberapa menit sebelum waktu ujian mata kuliah Bahasa Indonesia usai.

Kampus kami memang berbeda dengan kampus-kampus yang lain, karena kampus kami adalah perguruan tinggi kedinasan, maka semua jadwal dan kelas ditentukan oleh sekretariat. Kelas kami pun setiap hari sama untuk semua mata kuliah, persis seperti masa SMA.

Ujian semester kali ini adalah yang perdana bagi kami. Kami sekelas mengerjakan ujian bersama lima kelas yang lain di salah satu gedung serbaguna di kampus kami. Suasana yang begitu ramai mengingatkan kami pada masa-masa perjuangan kami dahulu, saat-saat Ujian Saringan Masuk.

Hari itu adalah hari kedua. Mata ujian kali ini adalah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memang tidak mudah. Namun, sebagian besar dari peserta ujian di gedung kami berada sudah meninggalkan ruangan bahkan 45 menit sebelum ujian usai. Paling tidak, mata ujian kali ini tidak serumit Pengantar Akuntansi di hari sebelumnya, yang membuat sebagian besar dari mahasiswa tidak ingin beranjak dari tempat duduk meskipun pengawas ujian sudah menyatakan waktu ujian selesai.

Ah, waktu tersisa cukup banyak untuk hari ini. Seorang teman yang duduk di baris depan tampak mengantuk, ia meletakkan kepalanya di atas meja. Ketika seorang pengawas mendatanginya dan bertanya apakah ia sudah selesai, ia mengiyakan. Pengawas tersebut lalu mengatakan ia boleh keluar jika telah selesai mengerjakan, sekali lagi teman kami mengiyakan, tapi ia tetap duduk dan tak beranjak keluar ruangan.

Mungkin ia memang ingin menunggu kami, teman-teman sekelasnya yang lain. Sebab memang sudah dari awal, kami bersepakat untuk keluar ruang ujian bersama-sama. Kami berpikir ketika seorang teman yang telah selesai mengerjakan dan kemudian keluar, ia, sadar maupun tidak, menyebabkan mental breakdown pada teman sekelasnya, sehingga mereka bisa saja panik, tak fokus, dan terburu-buru bahkan tak berhati-hati. Mungkin itu tak berguna bagi sebagian orang, membuang waktu. Namun, bagi kami, apa salahnya menunggu beberapa saat saja untuk kebaikan kawan?

Di ruangan yang super luas itu kami duduk berderet-deret dan berbaris-baris. Ada kurang lebih 12 baris, dan tiap baris terdiri dari 20 meja, masif bukan?

Jadi, kembali pada apakah kesabaran adalah benih dari kesetiaan?

Mungkin iya. Singkat cerita setelah cukup lama mengerjakan ujian Bahasa Indonesia, hampir separuh dari peserta ujian keluar dari ruangan ketika waktu masih tersisa kira-kira 45 menit. Baris keempat dan ketiga dari belakang adalah kelas kami. Ketika satu per satu peserta ujian, dengan santainya kami duduk dan menunggu. Menunggu? Ya, ada beberapa dari kawan kami yang belum usai mengerjakan ujiannya.

Ketika peserta ujian tinggal beberapa gelintir saja, kecuali kelas kami, kami saling berpandangan. Seperti meyakinkan satu sama lain apakah mereka sudah selesai. Beberapa diantara kami tersenyum kecil, sepertinya gemas akan scene seperti ini, yang mugkin hanya ada di film.

Mungkin jika dilihat dari atas, keadaan gedung tempat kami ujian akan sangat unik, dua baris peserta ujian masih bertahan sebelum waktu ujian dinyatakan selesai. Kami berpandangan lagi. Tak lama kemudian, terdengar suara kursi bergeser, ketua kelas kami berdiri, beberapa diantara kami pun berdiri, disusul yang lain, dan akhirnya semua anak kelas kami berdiri, kecuali dua orang.

“Lah, mereka belum selesai?“ tanya ketua kelas, “kirain udah. Padahal tadi gue nungguin dia.“

Sambil menunggu kedua teman yang ternyata belum selesai, kami berdiri di dekat pintu keluar dan berdiskusi tentang ujian tadi. Terlihat di wajah teman-teman ujian hari ini tidak sesulit Pengantar Akuntansi kemarin. Ah, PA.

Kedua teman yang ditunggu ternyata ikut bergabung beberapa saat kemudian. Akhirnya, kami keluar kelas bersama-sama.

Sesaat, sempat tertangkap senyum lebar dan tawa kecil dari beberapa pengawas ujian melihat tingkah kelas kami. Kami sabar dan setia.

Kita rela duduk lama menunggu, bersabar, melupakan hal-hal lain yang lebih pribadi, misal pulang dahulu ke kos lalu tidur, dan memilih bersama kawan. Bukan itu poin utamanya. Poin utamanya bahwa kesabaran yang kita miliki melatih kita untuk setia. Kita rela melakukan sesuatu yang mungkin memberatkan kita, tidak menyenangkan, bahkan mungkin bukan yang inginkan. Namun, semua itu membuat kita semakin terbiasa akan hal-hal yang menguji kesabaran kita. Karena terbiasa itulah, kita menjadi pribadi yang setia. Selalu bersama rekan, partner, sehabat, atau pasangan kita karena kita sudah terbiasa sabar dengan mereka.

setia /se·tia/ a 1 berpegang teguh (pd janji, pendirian, dsb); patuh; taat: bagaimanapun berat tugas yg harus dijalankannya, ia tetap — melaksanakannya; ia tetap — memenuhi janjinya; 2 tetap dan teguh hati (dl persahabatan dsb): telah sekian lama suaminya merantau, ia tetap — menunggu; 3 berpegang teguh (dl pendirian, janji, dsb): walau hujan turun dng lebatnya, ia tetap — memenuhi janji pergi ke rumah kawannya; bersetia /ber·se·tia/ a tetap setia; setia selamanya; kesetiaan /ke·se·ti·a·an/ n keteguhan hati; ketaatan (dl persahabatan, perhambaan, dsb); kepatuhan

Seperti pada definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia, setia artinya berpegang teguh, taat, teguh hati. Semua itu bisa terjadi karena kesabaran yang kita miliki menjadikan kita taat hal-hal yang kita percayai benar. Sabar artinya tenang, tidak terburu-buru, tabah, tahan cobaan. Karena kita tenang menghadapai bos kita di kantor, kita tahan omelannya setia hari, lambat laun hal itu biasa. Kita maklum kerena kita sabar. Kesabaran yang cukup lama itu akan menarik kita pada kesetiaan. Nah, hal tersebut juga akan membawa hal baik pula pada kita. Misal, karena kesetiaan kita padanya, bos memberikan bonus pada kita

Seperti pada pertemanan. Mungkin pada saat saling kenal, kita merasa tak nyaman dengan kepribadian teman kita. Namun, setelah lama, setelah sedikit kita bersabar akan kepribadiannya, kita akan biasa dengan dia. Bahkan, kita bisa saja bersahabat dengan karenanya.

Entahlah, tak ada jawaban pasti akan hipotesis ini. Yang jelas, keduanya, sabar dan setia, akan membawa suatu kebaikan mesti pada awalnya hal ini susah dilakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s