“Raih jantungnya, lalu batang tenggoroknya, kemudian robeklah.”

Malam itu tidak dingin, tidak mencekam, tak pula penuh kesunyian. Malam itu terasa penat, lelah, gerah. Bertumpuk pekerjaan menghimpit tak menyisakan waktu meski menghela sedikit udara untuk membasahai rongga dada. Berterimakasihlah pada kapilermu yang membengkak, menyisihkan celah untuk oksigen, meski beban hidup yang entah terasa mengikat diri pada ketidakbahagiaan terus meronta enggan melepas ikatan. Suara-suara dalam diri berteriak, memaki, menertawakan, menjatuhkan. Suara yang lain merintih, kesakitan, menangis, mengharap belas kasihan, menghilang. 

Diamlah dan dengarkan apa yang dikata, dengar permintaannya. Raih jantungnya, lalu batang tenggoroknya, kemudian robeklah. Biarkan anyirnya cairan merah itu menjadi arang dalam bara apimu. Biarkan ia mengalir di genggamanmu, jadikan pengingatmu. Meski usai, ia tetap di sana, di tempat semula. Menyeringai menunggu empunya tak berdaya. Robek mulutnya, patahkan kakinya. Teralis tak menghentikannya, ia sekuat itu dan sepicik ini. 

 

Teruslah berlari meski sendi-sendimu terasa nyeri, lututmu terasa lemas, dan nafasmu akan menghilang. Taklukan ia yang bernafas bersamamu, yang melemaskan lututmu, yang berbisik “Kau tak bisa.”

Karena sesungguhnya, sebelum engkau bisa mengalahkan dunia, kalahkan dirimu sendiri. Sebelum engkau bisa menaklukkan orang lain, taklukkan dirimu, pikiranmu.

 

*

23:57

Tangerang Selatan, 12 Februari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s